Rabu, 01 Agustus 2012

Ini Risikonya Sembarangan Minum ASI dari Donor

Para ibu yang sibuk sering tak punya waktu menyusui si buah hati. Solusinya adalah dengan mencari donor ASI. Namun hati-hati karena asal memberikan ASI dari donor bisa berisiko bahaya. "ASI adalah cairan hidup yang merupakan makanan terbaik bagi bayi, tapi sayangnya ASI juga dapat menularkan berbagai virus," kata dr Elizabeth Yohmi, SpA, IBCLC dari Satgas ASI IDAI dalam acara Seminar Media tentang ASI di kantor Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jakarta, Rabu (1/8/2012). Beberapa virus yang terdeteksi dalam donor ASI yang tidak steril menurut dr Elizabeth adalah: - HIV - Hepatitis - Cytomegalovirus - West nile - Human T-cell lymphotropic Sebelumnya memang pernah ada penelitian dari University of North Carolina yang menemukan bahwa virus HIV akan mati ketika berada di dalam ASI. Tapi penelitian tersebut dilakukan pada tikus sehingga belum tentu dapat digeneralisir kepada manusia. WHO sendiri mengumumkan bahwa kemungkinan penularan HIV lewat ASI adalah sebesar 5 - 20 persen. Bahkan jika tidak mengkonsumsi obat antiretroviral (ARV), menyusui selama 2 tahun atau lebih sudah dapat melipatgandakan risiko bayi terinfeksi HIV sekitar 40 persen. Hal ini tentu mengkhawatirkan mengingat tingkat kasus HIV di DKI Jakarta makin banyak dan merupakan yang tertinggi di Indonesia. Menurut data Kementerian Kesehatan, jumlah kumulatif kasus AIDS di DKI Jakarta sepanjang 1987 sampai Maret 2012 sebanyak 5.118 kasus dan kasus HIV mencapai 20.216 kasus Selain HIV, salah satu jenis penyakit yang dapat ditularkan lewat donor ASI adalah infeksi Human Lymphotrophic Virus (HTLV). Berbeda dengan HIV, virus ini menginfeksi sel limfosit di dalam tubuh dan memicu munculnya kanker darah atau leukimia dan merusak sistem saraf. Agar dapat memunculkan leukimia, virus ini membutuhkan masa inkubasi selama 20 tahun. "Bayi yang meminum donor ASI mengandung HTLV adalah yang paling rentan sebab bayi kandung dari ibu yang memiliki HTLV telah memiliki antibodinya. Untungnya, kasus HTLV yang berubah menjadi penyakit hanya 1 - 2 persen. Tapi ibu yang terinfeksi berisiko menjadi carrier atau pembawa virus," kata kata Dr. Rosalina D. Roeslani, SpA(K) dari Satgas ASI IDAI. Adanya ancaman ini menegaskan pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan pada ibu pendonor ASI serta ASI dari pendonor. Sebelum melakukan donor ASI, ibu sebaiknya menjalani pemeriksaan menyeluruh mengenai adanya risiko penyakit menular. Pemeriksaan pada ibu ini bisa dilakukan di laboratorium klinis. Agar terhindar dari ancaman virus dan bakteri berbahaya, ASI dari donor harus mendapat penanganan khusus, yaitu dilakukan prosedur pasteurisasi pretoria. Caranya, ASI sebanyak 50-150 mL ditempatkan dalam wadah kaca tertutup 450 mL lalu dimasukkan dalam panci aluminium 1 liter. Tuangkan air mendidih sebanyak 450 mL atau lebih kemudian tunggu selama 30 menit. Semoga bermanfaat Sumber Putro Agus Harnowo - detikHealth

tUkeRAn LiNk YUK ?!

Silahkan tambahkan sendiri Link Banner para sobat dengan cara menulis alamat URL site dan alamat URL banner ke dalam kolom di bawah ini. Trims.

Silahkan tambahkan sendiri Link Text para sobat dengan cara menulis nama dan alamat URL site ke dalam kolom di bawah ini. Trims.

Google News

SpONsOR