Rabu, 23 Juni 2010

Kontroversi Seputar Produk Perawatan Kulit, Tabir Surya

TABIR surya berguna untuk melindungi kulit dari bahaya sinar mentari. Akan tetapi, sejumlah kontroversi yang beredar seputar produk perawatan kulit tersebut cukup membuat orang merasa risau.

Perlindungan minim

Tabir surya dikhawatirkan tidak memberikan cukup perlindungan untuk menangkal sinar UVA yang mempercepat penuaan. Dalam hal ini, kegelisahan tersebut memang berdasar.

Menurut sebuah studi terbaru terhadap 13 jenis tabir surya populer, seperti dikutip situs prevention.com, hanya

lima di antaranya yang memberikan perlindungan tingkat tinggi terhadap UVA. Sedangkan sisanya hanya menawarkan perlindungan tingkat menengah.

Penemuan ini sungguh mengejutkan, karena UVA merupakan 95 persen dari keseluruhan sinar UV yang terpapar ke tubuh kita, dan memicu lebih banyak radikal bebas yang berujung pada keriput dan noda di wajah.

Untuk mendapatkan perlindungan UVA terbaik, pilih tabir surya yang mengandung avobenzone, mexoryl, dan zinc oxide. Ironisnya, matahari dengan cepat membuat avobenzone menjadi tidak efektif. Oleh karena itu, pastikan senyawa tersebut dipasangkan dengan stabilisator seperti octocrylene, polyester-8, butyloctyl salicylate, atau ethylhexyl methoxycrylene.

Sementara itu, untuk mendapatkan perlindungan dari radikal bebas, pilih tabir surya yang mengandung antioksidan seperti vitamin C (alias asam askorbat) dan E (alias tokoferol), yang mengurangi molekul-molekul berbahaya sebanyak 74 persen. Semakin tinggi urutannya di daftar kandungan bahan, semakin besar konsentrasinya.

Penyebab kanker
Sempat beredar kontroversi yang mengatakan tabir surya mengandung senyawa yang meningkatkan risiko kanker payudara. Kekhawatiran tersebut timbul karena tabir surya umumnya mengandung oxybenzone (alias benzophenone-3), yang memiliki kemampuan unik untuk melindungi kulit dari sinar UVA dan UVB. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa senyawa tersebut memiliki efek mirip estrogen, yang berpotensi menyebabkan sel-sel kanker tumbuh lebih pesat.

Sebuah percobaan menggunakan tikus yang diberikan oxybenzone dosis tinggi–jauh lebih banyak dibandingkan yang mungkin terpapar oleh Anda dalam sehari–menemukan bahwa efek mirip estrogen yang dialami ternyata sangat rendah. Hal itu diungkapkan Henry Lim, MD, kepala departemen demartologi di Henry Ford Health System.

Dalam sebuah studi lain, oxybenzone konsentrasi tinggi diaplikasikan ke seluruh tubuh sejumlah sukarelawan, setiap hari selama empat hari. Meski pun senyawa itu terserap ke dalam aliran darah mereka, senyawa tersebut tidak memberikan dampak terhadap hormon reproduktif, termasuk estrogen.

Pada intinya, belum ada studi yang membuktikan atau menyimpulkan bahwa oxybenzone menyebabkan kanker. Yang terbukti adalah bahwa tabir surya merupakan salah satu cara terbaik untuk melindungi diri dari bahaya sinar UV. ”Kami mengetahui manfaat tabir surya. Kami tidak melihat bahaya apa pun,” kata Kenneth Portier, Ph.D., dari American Cancer Society.

Jika masih khawatir terhadap keamanan tabir surya yang Anda gunakan, pilih saja produk yang tidak mengandung oxybenzone.

Kekurangan vitamin D
Tabir surya dikhawatirkan memblokir proses produksi vitamin D. Padahal, meski pun tabir surya SPF 30 memblokir 97 persen UVB (sinar yang memungkinkan kulit memproduksi vitamin D) penelitian menunjukkan penggunaan normal tidak mengakibatkan kekurangan vitamin D. Sebagian penyebabnya karena orang biasanya tidak mengaplikasikan cukup tabir surya untuk menimbulkan masalah tersebut.

Vitamin D merupakan salah satu nutrisi penting bagi tubuh. Sayangnya, penelitian menunjukkan banyak orang mengalami kekurangan vitamin D.

Solusi sederhana untuk mengatasi masalah ini adalah dengan memastikan mendapatkan lebih banyak asupan vitamin D dalam diet Anda. Sumber vitamin D yang baik antara lain salmon, keju, susu fortifikasi dan jus. Selain itu, ada baiknya meminum suplemen harian yang mengandung vitamin D3 dengan dosis 1.000 IU.

”Langkah ini sangat mudah dan jauh lebih aman dibandingkan menggoreng kulit Anda di bawah sinar matahari,” kata James Spencer, MD, profesor dermatologi klinis di Mount Sinai School of Medicine.

sumber: Yulia Permatasari, mediaindonesia.com / resep.web.id

Tidak ada komentar:

tUkeRAn LiNk YUK ?!

Silahkan tambahkan sendiri Link Banner para sobat dengan cara menulis alamat URL site dan alamat URL banner ke dalam kolom di bawah ini. Trims.

Silahkan tambahkan sendiri Link Text para sobat dengan cara menulis nama dan alamat URL site ke dalam kolom di bawah ini. Trims.

Google News

SpONsOR